Blog Tengah: Kreativitas dan Gagasan
Blog ini adalah tempat berkreasi dan menyalurkan gagasan yang diharapkan bermanfaat. Bambang Sugiharto.
Kamis, 03 April 2025
MUSAFIR DALAM KEHIDUPAN
Selasa, 18 Maret 2025
Pilihan-pilihan Amal Terbaik
Kepala Sekolah menanya kepada para siswa-siswi sudah berapa jauh bertadarus atau membaca Al Qur'an. Pada pembukaan Pondok Ramadhan 1446 H itu kebetulan di hari ke-17 bulan puasa. Jadi pas dengan momen peringatan Nuzulul Qur'an, kira-kira demikian. Pak KS sendiri mengaku sudah mengaji sampai juz 22, ma sya Allah tabarakallah, sudah cukup jauh. Itu sudah melebihi one day one juz, satu hari satu juz. Penulis sendiri baru berhasil rata-rata sehari setengah juz, alhamdulillah juga meski kurang he he. Semoga dapat lebih cepat lagi, walaupun membaca Al Qur'an itu bukan balapan. Ini bagian dari fastabiqul khayrat, berlomba dalam kebaikan, khususnya di bulan mulia, Bulan Ramadhan.
Istimewa sekali, ketika Pak KS melontar pertanyaan adakah
yang sudah sampai di atas juz 20? Satu siswi mengacungkan tangan. Saat di depan dan ditanya lagi, ia bahkan
mengaku telah khatam dua kali dan kini sudah sampai juz 15 lagi. Ma sya Allah
tabarakallah. Pak KS sangat terharu dan berucap betapa orang tua siswi yang
bernama Nasya Putri Juli Yustina kelas 9E ini pasti senang mempunyai anak shalihah,
yang ditunjukkan dengan kesungguhan mengaji tersebut.
Yang menyaksikan ini umumnya tak membayangkan betapa anak
itu begitu rajin, konsisten atau istiqamah dalam mengaji, tadarus. Boleh kita berpikir
bahwa ia masih anak-anak yang ounya waktu longgar, sedang libur sekolah atau sedang masa
belajar di rumah, ia tak memiliki tanggungan tugas atau pekerjaan. Namun, ia
telah membuktikan telah melebihi, jauh melebihi, anak-anak lainnya dalam mengaji, yang notabene juga punya kelonggaran yang sama. Ini adalah kebaikan yang patut dicatat dan diapresiasi, dikabarkan
untuk menjadi refleksi, inspirasi dan motivasi. Seberapakah kedekatan kita
dengan kitab suci, pedoman dan penuntun hidup, yang kita imani, Al Qur.an, ini?
Kecintaan dan pemahaman terhadap satu-satunya mukjizat yang masih ada ini
adalah penentu kedekatan kita.
Sementara itu, tetangga penulis, Pak Haji dan Bu Hajjah biasa berlama-lama di masjid sesudah menunaikan shalat Subuh. Setelah berdzikir beberapa saat kemudian mereka mengambil Al Qur'an, mengaji hingga waktu syuruq, sekitar pukul 6 pagi atau kurang. Sehabis melakukan shalat sunnah Syuruq 2 rakaat baru turun dari masjid, pulang. Merujuk sebuah hadits bahwa kebaikan amaliah berdzikir di masjid setelah Subuh hingga waktu Syuruq pahalanya seperti menunaikan haji, umrah yang sempurna. sempurna, sempurna. Kita yang tidak atau belum menjalankannya boleh 'meng-iri" untuk dapat pula bersama mereka atau seperti mereka, in sya Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shalallaahu 'alayhi wassalam seperti dikatakan Anas r a.: 'Barang siapa shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah subhaanahu wara'ala sampai terbit matahari, kemudian ia shalat dua rakaat, maka amalan itu sama dengan pahala menunaikan ibadah haji dan umrah secara sempurna, sempurna dan sempurna.' (HR Attirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan)
Ada pula ibu rumah tangga yang di rumah sehari-hari hanya dapat ‘belajar’
mengaji sebentar-sebentar, sedikit-sedikit, yang berjuang sebagai pemula berusaha
selalu konsisten menjalankannya, in sya Allah. Di rumah, ia lebih banyak
mengurus kebutuhan anggota keluarga sehingga berlama-lama di dapur, bersih-bersih, diselingi keluar berbelanja melengkapi kebutuhan dapur, serta mengerjakan tugas dinas dan
urusan pekerjaan lainnya. Penulis pun mengapresiasi dan bersyukur dan menilai
itu adalah salah satu bentuk jihad seorang wanita. Dengan itu semoga ia senantiasa dikaruniakan
hidayah dan ada rahmat Allah yang kelak mengantarkan ke surga-Nya. Aamiin.
Kebaikan atau amal shalih boleh dikata fleksibel dan luas. Ajaran agama memberikan keleluasaan dalam melakukan kebajikan sesuai dengan kemampuan. LaayukallifuLlahi nafsan illaa wus'aaha. Tentu saja ada hal-hal yang standar, pakem, yang semua harus menjalankan, tak dapat ditinggalkan atau digantikan dengan amal lain. Sebutlah, ibadah shalat lima waktu merupakan kewajiban untuk seluruh orang beriman. Shalat pembeda keimanan dan kekafiran. Dalam melaksanakannya tersedia rukhshah atau keringanan untuk yang mengalami keterbatasan. Misalnya untuk yang sedang sakit boleh menunaikan dengan duduk atau berbaring karena tak kuat berdiri. Untuk musafir, yang tengah bepergian, shalat di dua waktu dapat di-jama’, digabung, atau dikurangi jumlah rakaatnya , di-qashar.
Tergambar dari contoh-contoh di atas, kebaikan atau amal shalih di luar ibadah mahdhah, begitu luas, banyak pilihan, sesuai kondisi, kemampuan serta situasi. Pada dasarnya semua perbuatan yang tidak melanggar syariat, yang diniatkan lillaahi ta'ala, demi Allah Yang Maha Tinggi, maka itu merupakan amal shalih. Rasuulullah Muhammad shalaLlaahu 'alayhi wasallam memberikan banyak contoh dan pilihan bagi ummat beliau untuk beribadah sunnah dan beramal shalih secara umum. Ajaran agama adalah tidak untuk memberatkan. Basyiiran wanadhiiran, agama itu menggembirakan dan memberikan peringatan. Para hamba Allah pun tak boleh merasa hina dan bersedih. Kita menuju kemenangan, keberuntungan. Hayya 'alal falaah.
Akhirnya, beberapa contoh di atas adalah bentuk keshalihan personal. Sementara tak kalah nilainya adalah amal-amal yang sifatnya keshalihan sosial. Penulis, misalnya,, ingin mencatat di sini keberadaan webinar MAPARA, Matahari Pagi Ramadhan, kajian setiap pagi selama bulan puasa yang tahun ini sudah memasuki tahun keempat. Kegiatan dari IRo-Society ini adalah majelis keilmuan virtual yang, misalnya, tahun ini menghadirkan 30 guru besar yang menyampaikan berbagai materi 'keilmuan dan keagamaan'. Ayat -ayat qauliyah berpadu dengan ayat-ayat kauniyah, betapa menggugah dan mencerahkan. Di luar itu, banyak keshalihan sosial yang juga berdampak luas tentu juga yang dilakukan ormas-ormas keagamaan dan berbagai komunitas. Penulis teringat taushiah bahwa para ahli surga kelak akan memasukinya secara berombong-rombongan. Ma sya Allah, tabarakallah.
_______
Lamongan, Selasa 18 Ramadhan 1446 H. / 18 Maret 2025 .
Rabu, 05 Maret 2025
"Ayat-ayat Favorit" dan Ayat Cahaya di Atas Cahaya yang Sering Dibaca Cak Nun
Semua ayat Al Qur'an pasti bermakna penting untuk kita orang beriman. Meski demikian, tidak semua ayat dapat dengan mudah lancar kita baca, gampang diingat atau dipahami. Ada yang mudah dicerna, ada yang memerlukan penjelasan mendalam, mengikuti tafsir ulama. Di antara itu semua, rasanya, ada yang kita mudah teringat, tersentuh, atau boleh dikatakan tertarik dengan ayat tertentu. Seharusnya semua harus menyentuh dan menarik, namun karena keterbatasan dan kebodohan kita, maka muncullah kesan ada ayat yang 'favorit' yang masing-masing orang dapat berbeda.
Saat remaja, penulis tertarik pembacaan ayat 'fa alhamaha fujuuraha wataqwaaha' bahwa manusia itu diberikan potensi untuk dapat berlaku baik maupun untuk berperilaku buruk. Disampaikan pula bahwa beruntunglah orang yang membersihkan dirinya 'qad aflaha manzakkaaha' serta merugilah orang yang mengotori dirinya'waqad khaaba man dassaaha'. Konsep potensi, kebebasan memilih dan tuntunan Tuhan itu memahamkan kami. Pengajian untuk kami anak-anak remaja di serambi masjid pada sore ba'da Ashar, atau yang sehabis tarawih, pada bulan Ramadhan terkenang selalu.
Pada waktu kuliah, penulis berteman dekat dengan seorang kakak tingkat. Kebetulan ia berasal satu daerah dengan penulis. Lebih senang lagi karena ia lulusan pondok terkenal, yakni Ponpes Modern Gontor Ponorogo. Ia seakan menjadi saudara di perantauan. Penulis menjadi juniornya juga di organisasi mahasiswa, baik di intra maupun ekstra universitas. Pernah pula kami bekerja 'sambilan di sela kuliah' bersama. Kami dekat sekali sehingga perkataannya ada yang mengesankan saya bahwa Allah mungkin saja memberi rejeki dari arah tak disangka-sangka, 'wayarzuqhu min haytsu laayahtasib.' Makna ayat itu yang penulis otak-atik untuk membuat nama anak pertama, yang 'baru' lahir pada tahun ke tujuh setelah pernikahan.
Di antaranya bersama Mas Senior itu pula, ada kelompok studi mahasiswa, yang penulis ikuti. Kami pernah mengundang tokoh budayawan nasional, penyair, penulis, aktivis sosial, yang ternama (bahkan hingga kini, red ) yaitu Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Penulis yang saat itu baru semester 2, sekedar ikut-ikutan dalam kepanitiaan. Pada hari H pelaksanaan, di antaranya penulis ditugaskan menjemput Bapak Pembantu Rektor 3 di Kantor Pusat Lantai 3. Ruang beliau tidak jauh sekali dari Auditorium, penulis menjemput dan mengawal hingga masuk ruang, yang lalu didampingi panitia lainnya. Entahlah, agak grogi ketika itu tetapi tetap berusaha pedhe sebagai kader aktivis he he he.
Mas Senior menjadi pembawa acara. Keren sekali ia yang memang tinggi, atletis, karena hobby main basket, tampan, fasih Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, serta terlatih "kithaabah' pidato saat di Pondok Gontor. Ia klop mengantarkan acara yang menampilkan suami artis Novia Kolopaking tersebut yang kebetulan juga pernah mengenyam 'nyantri' di Gontor. Kala itu Cak Nun sudah sering jadi headline pemberitaan media. Tokoh kelahiran Jombang yang kebetulan adik dari Pembantu Dekan 2 di fakultas kami itu membawakan tema Islam di Antara Budaya Barat dan Timur, lebih kurang demikian yang penulis ingat.
Gaya orasi dan isi ceramah ayah Noe Letto itu menyegarkan pikiran, mencerahkan hati, menarik, sebagaimana ceramah beliau hingga kini. Penulis amat terkesan penampilan penyair yang fenomenal mementaskan teaterikalisasi karyanya Puisi Lautan Jilbab tersebut. Saat itu, Cak Nun sempat membacakan ayat yang 'favorit' sering dibacanya, bahkan dapat kita ketahui hingga bertahun-tahun berikutnya.
Ayat 35 QS. An Nuur, ayat cahaya di atas cahaya, dibacanya dengan memikat, serasa semua hadirin terhipnotis. Penampilannya adalah sebagai seorang dramawan yang menghayati betul apa yang diucapkannya. Ia tidak sekedar berakting tetapi ia benar-benar mengekspresikan dirinya sebagai hamba Allah. Audiens pun terhanyut menyimak ayat itu. Barangkali berlebihan, penulis juga menyaksikannya seakan ada tata cahaya yang menyorotnya, padahal tidak. Ma sya Allah.Wallaahu a.lam.
"Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disebtuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang dikehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (TQS. An Nuur:35)
_______
Lamongan, 5 Ramadhan 1446 H. / 5 Maret 2025
Sabtu, 15 Februari 2025
T e r - s i h i r Kebaikan Palsu
_______
Aku tak mengira dia seperti itu. Bicaranya halus, sopan, ramah, pandai membawakan acara, menjadi MC, menyanyi, gaul, di kegiatan formal atau pun santai. Ia menjadi rujukan, tempat bertanya, untuk banyak urusan lembaga. Kebijakan atau solusinya selalu ditunggu dan dianggap adil. Ia selalu siap hadir dan membantu. Semua mempercayainya hingga ia diberi banyak peran. Akhirnya tercatat ia menjadi memegang 2 pos keuangan sekaligus. Periode yang dijalaninya pun bahkan melebihi aturan umum 2 periode. Ternyata sikap empati, dermawannya sangat terdukung dengan kemudahan ia mengakses keuangan. Ia pun dikenal royal, mudah memberi, menyenangkan hati orang. Ia kini masih menduduki sebuah posisi tinggi. Orang di sekitarnya selama ini bagai ter-sihir sikap kebaikannya.
Ada yang tak terperhatikan orang lain. Keberadaannya di tengah-tengah berbagai momen orang banyak tentu menuntut penampilan yang pantas. Bahkan setelah diamati, ia tak suka bila yang dipakainya adalah yang murahan. Sebagaimaba bila memberi pun tak mau yang sekedarnya. Saat ia punya hajat, ua menjamu tamu jauh melebihi yang orang lain lakukan. Kendaraannya diam-diam juga berganti yang lebih nyaman. Membangun rumah pun dibuat yang cukup bagus, tak mau bertahap, langsung jadi, dilengkapi perabot dan fasilitas taman yang tidak murah. Ia berperan sebagai orang baik dan hebat, sering dikerubuti para yang butuh. Penampilannya pun oke, apikan, pribadinya baik.
Betapa kagetnya ketika terungkap ia gagal dalam mengelola keuangan lembaga. Pencatatan pembukuan asal-asalan, ngawur, padahal ia tidak bodoh matematika. Ternyata penyebabnya adalah ia telah menggunakan dana untuk bukan untuk kepentingan yang seharusnya. Ia gunakan untuk gengsi diri yang tinggi dan keluarganya. Rumah yang dibangun, mobil yang dibeli mengganti yang lama, hajatan yang mewah, dermawan dan menyenangkan teman-teman, bahkan mendaftar ibadah ke Tanah Suci, ternyata semua tidak sesuai kemampuannya. Ia terbukti tidak jujur, tidak amanah dalam mengemban tugas mengelola keuangan. Ia terbukti bersalah dan harus mengembalikan dana ratusan juta rupiah. Terkuak juga ia ternyata juga menanggung hutang ratusan juta rupiah beberapa koperasi simpan pinjam, serta mungkin juga di bank. Ia pun kini jadi pembicaraan karena tabrak teman sana sini disertai janji-janji yang jarang ditepati. Na'udzubillah mindzaalika.
_______
Lamongan, Sabtu 15 Pebruari 2025
Senin, 10 Februari 2025
Bertemanlah dengan Allah, Saat Sepi, Kehilangan
_______
Seorang tetangga cerita kegundahan seorang ibu, kerabatnya, yang baru saja ditinggal suaminya. Beberapa hari masa takziah, anak-anaknya, kerabat, handai taulan, tamu, masih ada meramaikan rumah. Bagaimana nanti ketika mereka semua sudah berkativitas normal kembali? Si ibu itu membayangkan hidup sendiri karena salah satu anaknya tinggal dan bekerja jauh di luar kota, luar propinsi pula. Sementara yang satu lagi juga bekerja di luar kota, namun masih satu propinsi dan sudah dibuatkan rumah sendiri, tak jauh dari rumah si ibu. Mungkin ini yang akan diajak kumpul serumah. Biarlah rumah yang belum jadi untuk sementara tidak direncanakan untuk segera ditempati.
Tetap ada kegalauan, karena separuh jiwa, garwa sigaring nyawa, suami tetap tidak ada di sisi.Wallahu a'lam. Ini bukan aneh sekali, biasa atau sering terjadi, dapat dipahami, serta siapa saja dapat atau akan mengalami. Kebetulan tetangga yang dicurhati tersebut telah ditinggal suaminya lebih dulu, beberapa tahun yang lalu. Kemungkinan si ibu tetangga itu pun merasakan hal lebih kurang sama. Butuh waktu yang cukup hingga kini mampu memberikan masukan kepada yang baru mengalami agar berteman dengan Allah. Ma sya Allah, tabarakallah, itu tepat sekali. Meski begitu, untuk sampai pada pemahaman, keikhlasan hati, kita selalu butuh pertolongan-Nya.
Ya Allah, Engkau akan panggil semua. Bila bukan kami yang ditinggal, kami yang akan meninggalkan. Rumus dunia harus berpisah, kata Pak Haji Rhoma Irama dalam sebuah lirik lagunya. Menuliskan hal ini, menceritakannya, tentu mudah saja, seakan tanpa beban. Beda dengan yang sedang mengalami. Namun untuk maksud pembelajaran, mengambil hikmah, semoga dibolehkan dan manfaat. Paling tidak, agar kita menghargai siapa saja yang masih ada. Semoga Dzat Yang Membolak-balikkan hati menetapkan hidayah-Nya pada hati kita. Aamiin.
-------
Lamongan 10 Pebruari 2025
Senin, 03 Februari 2025
Rhoma Irama yang Tak Suka Diam
Peran-peran dalam dunia nyata dalam kehidupan kebudayaan, dunia seni, pentas politik hingga dalam dinamika beragama tak terbantahkan. Konsistensi dalam berjuang lewat seni dan integritasnya yang banyak diakui bahkan membuatnya terdapat dalam daftar para penyampai dalwah. Ia pantas dimasukkan dalam jajaran ulama' pewaris para Nabi, al 'ulamaau waratsatul anbiyaa'.
Sebagai seorang manusia yang tak sempurna, tentu ada yang tak suka atau melihatnya diri sisi-sisi yang dianggap sebagai kekurangan. Misalnya, ada yang mempertanyakan pilihan hidupnya menekuni dunia musik, terkait hukum musik dalam syariat, yang ikhtilafi atau debatable. Ada juga yang menyepelekan jenis musik yang digelutinya, Ada pula yang tak menyukai idealismenya dalam berkarya dan berkreasi. Ada pula yang sekedar memperhatikan penampilan fisiknya, kostum, syal, jambang, atau jenggot, misalnya.
Sementara ada yang lain melihat dengan sebelah mata pilihan peran politik yang diyakini dan dilakukan . Ia pernah dicekal 11 tahun, tak dibolehkan muncul, di televisi nasional yang kala itu satu-satunya stasiun yang ada dan diijinkan. Terkait itu pula, panggung pertunjukannya pernah dirobohkan penggemar sewaktu ia putar haluan berada di dalam satu barisan dengan yang sebelumnya dikritisinya. Ia pernah duduk di parlemen, mendirikan partai bahkan deklarasi bacapres.
Ia bukan figur publik kontroversial yang dengan sengaja sering membuat berita sensasi. Di era digital dengan kemajuan teknologi informasi dan berkembangnya media sosial ini, melalui platform podcast Rhoma Irama telah menghadirkan banyak tokoh, publik figur dan membicarakan dengan asyik serta serius berbagai topik atau hal. Sajian-sajiannya enak diikuti, mencerdaskan, mencerahkan, serta berupaya meluruskan persoalan yang kusut. Dengan sikap dirinya yang ramah, tampak suka belajar, dengan visinya yang jelas dan mudah dipahami, Rhoma telah menghasilkan karya-karya amal shalih baru berupa obrolan atau talkshow yang mendidik. Betapa ia yang berusia di atas kepala tujuh, hamba Allah yang tak mau berhenti berkarya, beramal, selama hayat di badan.
Ia legenda yang produktif melahirkan karya-karya yang amat banyak, jauh di atas rata-rata karya para orang produktif. Yang ma sya Allah adalah kwalitas karyanya sehingga dapat dinikmati sepanjang waktu lintas generasi. Boleh dibilang sekitar 900 lagunya enak didengar, puluhan filmnya pun menjadi pilihan yang direkomendasikan. Sebagaimana di muka, kini puluhan podcast-nya, episode demi episode, berusaha menjadi salah satu pencerah, penjaga umat, bangsa dan peradaban. Ini tak berlebihan.
Yang tengah digarapnya juga adalah membangun PIRI (Perguruan Islam Rhoma Irama). Rhoma merambah ke dunia pendidikan secara terlembaga, Selama ini lewat karya lagu, film atau pun podcastnya, Rhoma sejatinya telah menjadi pendidik atau guru untuk umat dan bangsa bahkan sesama. Namun rupanya ia ingin lebih nyata atau barangkali menempuh cara konvensional dalam merealisasikan perannya di dunia dakwah atau pendidikan, Sebetulnya, menurut penulis, Rhoma dapat menyalurkan perhatiannya dengan mendukung berbagai lembaga pendidikan dan pesantren yang ada. Agaknya ada visi misinya yang barangkali baru dapat terlaksana bila melalui sekolah atau pesantrennya sendiri. Wallaahu a'lamu.
Semangat menebar kebaikan dan menahan kemungkaran dari Pak Haji tak terbantahkan. Ia selalu menemukan peran yang selalu untuk dikerjakan. Sebagai tokoh publik yang dilakukannya senantiasa menginspirasi dan memotivasi banyak pihak. Pak Haji tidak suka diam dalam arti ia selalu kreatif, produktif. Karya-karyanya banyak dan aktivitasnya padat. Pak Haji tak suka diam juga dengan ghirah dakwahnya untuk amar makruf nahi munkar selalu dijalankan.
Catatan pendek ini sekedar wujud salut kepada Sang Raja Dangdut. Ma sya Allah. Tabarakallah. Pilihan lagu untuk ilustrasi tulisan ini subyektif penulis, atau anggap suka-suka saja.
_______
Lamongan, 3 Pebruari 2025
Selasa, 28 Januari 2025
Semangat Pagi dalam Hidup Orang Beriman
_____
__
Kita melihat anak-anak kecil yang masih digendong ibunya. Kita saksikan para remaja yang ceria menjalani hari-harinya. Banyak orang-orang muda yang semangat mengawali pekerjaan barunya. Ada pula ibu-ibu muda, ayah-ayah muda betapa bergairah mengarungi hari-hari bersama bocil-bocil mereka dengan penuh dinamika. Menjumpai pula para mahasiswa yang suntuk belajar dengan sabar dan sadar hadapi tantangan keilmuan. Ada dari mereka yang menonjol idealismenya. Fakta-fakta kebaikan tersebut memotivasi kehidupan orang beriman untuk lebih bersyukur dengan giat ibadah, terus belajar, mengaji serta kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas.
Para santri di pondok pesantren istiqamah atau konsisten membaca dan menghafal ayat-ayat Al Qur'an. Ada juga yang menggeluti kitab-kitab keilmuan, yang mungkin langka, tidak dipelajari orang awam. Banyak majelis taklim pun rutin berkegiatan mengaji, mengadakan kajian dan bersilaturrahim.
Rumah-rumah tangga yang terus bertambah umumnya hidup dalam kerukunan dan kedamaian meski terlihat kesederhanaan yang ada. Program-program acara tivi yang manfaat, konten-konten positif di berbagai platform media sosial terus menjamur, tak kalah banyak dengan tayangan liar yang diprihatinkan. Ada pula komunitas-komunitas pembelajaran yang terus konsisten menegembangkan kualitas diri dan peradaban.
Kebaikan tak nau ketinggalan berpacu dengan keburukan dan akan selalu menjadi cahaya peradaban. Orang beriman tak akan berputus harapan dari rahmat Tuhan. Tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali oeang-orang kafir. La yay asu minrawhillaah illalqawmil kaafiriin.
Sebagai pribadi-pribadi yang ingin selalu maju dan lebih baik, maka kita harus berani merefleksi diri, muhasabah. Apa yang telah terjadi atau yang dikerjakan kurun 10 tahun terakhir? Atau pula apa yang dialami rentang 10 tahun sebelumnya? Sewaktu flashback, ternyata betapa banyak hal yang telah terjadi, dialami, atau dikerjakan. Rasanya banyak hal yang sebelumnya tak direncanakan atau pun tak diinginkan terjadi, ternyata telah menjadi pengalaman nyata, baik suka maupun duka. Betapa pula waktu terasa cepat berlalu. Bersyukur pada Ilahi, detik ini mata masih mau mencoba melek, ada niat baik membuka diri, jujur, sedia berusaha melakukan koreksi, merenung, berupaya memaham makna kehidupan.
Ada lirik lagu /masa lalu biarlah masa lalu/. Atau /yang lalu biarlah berlalu/ ...lebih kurang begitu. Atau itu ucapan orang yang acapkali kita dengar. Padahal tidak sesederhana itu harusnya cara berpikir kita, demikian kata Pak Kyai di sebuah ceramah. Sejarah, nostalgia atau kenangan adalah untuk dipetik pelajaran dan hikmah. Ini berlaku di berbagai tataran kehidupan, baik sebagai pribadi sampai dalam berbangsa bernegara. Suka duka, tangis tawa, pahit manis kehidupan adalah bekal dan tonggak untuk menapak melangkah ke depan yang pasti diharapkan lebih baik.
Alhamdulillah kita masih semangat pagi atau selalu bersemangat seperti halnya orang muda. Umur adalah deret angka. Tidak ada yang menahu batasnya. Yang tua belumlah tentu lebih cepat menghadap Ilahi dari pada yang muda. Maka dikatakan jiwa muda itu bila kita suka berpikir ke depan. Yang hanya suka menikmati bernostalgia berarti jiwa tua he he he. Boleh saja menikmati keindahan masa lalu, tapi sekali sekali saja. Jangan pula suka mengeluh dan tak berpikir prestasi amal apa yang dapat disampaikan pada pengadilan Tuhan. Paling tidak, jaga pikiran positif dan tidak berburuk sangka kepada Allah Yang Maha Pemurah Maha Penyayang. Jangan pula berbuat bodoh menyekutukan-Nya. Na'udzubillah.
Bersyukur pula diberikan kesempatan untuk mau dan mampu berpikir waras dan sehat. Di antaranya, menyadari betapa besar nikmat Allah Arrahman Arrahiim yang tak terhitung, Begitu besar nilainya serta ada banyak hal tak terkira yang telah, sedang dan yakin terus diterima. Ma sya Allah. Tabarakallah. Di antara petunjuk dan nikmat tak ternilai itu adalah kemauan dan kemampuan untuk muhasabah, menghitung-hitung dosa yang dikerjakan dan kebaikan yang dimampukan Allah untuk diwujudkan.
Merefleksi diri perlu sesering mungkin, yakni berkaca melihat diri sendiri dengan jujur. Katakanlah setiap selepas shalat fardhu lima waktu kita dapat berdzikir dan berfikir lalu berdoa untuk kebaikan melangkah dalam kehidupan ke depan. Betapa bila kita konsisten atau istiqamah melaksanakan kewajiban ibadah maka sesungguhnya petunjuk dan ampunan Allah dapat kita harapkan. Sebaliknya bila kita bagai orang yang melupakan Allah, awas bila Allah akan membuat kita lupa pada diri kita sendiri. Yang lupa diri itu akan menjadi orang fasiq. Na’udzubillaah min dzaalik. Walaatakuunu kalladziina nasullaaha fa'ansaahum anfusahum. Ulaaika humul faasiquun.
Setiap orang perlu mengoreksi dan menjaga arah hidupnya. Sepertinya itu ungkapan radikal, memang iya, tetapi pasti dibutuhkan. Betapa banyak orang yang tersesat arah tujuan hidupnya. Ia lupa kepada Allah, hidunya tidak ikhlas lillaahi ta'ala. Banyak orang yang mencari kebahagiaan dan kemuliaan semu. Ia tak mengerti bahwa kemuliaan itu adalah milik Allah, Rasul-Nya serta orang-orang beriman. Innal izzata lillaahi warrasuuli walmu’miniin.
Akhir tulisan, fabini’mati rabbika fahaddits. Alhamdulillaah, teringat setahun lalu, di awal tahun 2024, penulis dan keluarga tersibukkan oleh persiapan-persiapan memenuhi panggilan Allah yang terjadwal pada bulan Mei 2024. Menata hati atau menata niat, menambah bekal pengetahuan dan penguatan mental dengan banyak berdoa, bertanya-tanya, rajin mengikuti pelatihan manasik oleh kami, saya dan istri.
Tak kalah istimewanya adalah menjamin kesiapan ibunya dan anak-anak untuk berpisah sementara, lebih dari 40 hari berjauhan. Ma sya Allah, tabarakallah, penulis setengah tak mengira mereka sedia, rela, menjalani pengalaman menahan hati. Semoga Allah subhaanahu wata’ala selalu mengkaruniakan kami taqwa, tawakkal, shabar dalam rangka mendekat dan mentaati perintah Allah. Sebelumnya sempat terpikir, apakah sebaiknya kami berangkat bergantian. Alhamdulillah ternyata Allah mentakdirikan yang terbaik.
Tabaarakalladzii biyadihil mulku wahuwal 'alaakulli syaiin qadiir. Alladzii khalaqal mawta walhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalan wahuwal 'aziizul ghafuur. Alladzii khalaqa sab'a samaawaatin thibaaqa. Maataraa fiikhalqirrahmaani mintafaawuut. Farji'il bashara haltaraa min fithuur. Tsummarji'il bashara karratayni yanqalib ilaykal basharu khasi'an wahuwa hasiir.
_______
Mantup, 28 Januari 2025
MUSAFIR DALAM KEHIDUPAN
Pada momen Ramadhan dan Iedul Fitri, tidak sekali dua kali saat-saat tertentu menerawang, mengenang, teringat masa-masa yang telah berlalu...

-
Video kejadian setahun lalu viral sekarang, entahlah. Seorang siswa SMP begitu emosional saat ditanya tugasnya oleh seorang Bu Guru. Berbaga...
-
Piye iki, Fik. Aku sregep nang mushala posoan iki koq malah diarani koyok Yuk Kaji wae?. Babahno tah, Mak. Wong sampean iku lho nglakoni api...
-
Kebanyakan kita tentu takut mendapatkan kesulitan, musibah, atau hal yang tak menyenangkan di mana saja, termasuk saat bekesempatan ditakdir...