Sabtu, 25 April 2026

Bekal 11 Bulan ke Depan

_______

Sebagaimana disampaikan oleh Pak Kyai atau mungkin penceramah lain, orang puasa akan mendapatkan dampak dari puasanya itu. Ada yang mengalami seperti ular, ada yang berdampak seperti ulat. Yang seperti ular, selepas puasa ia akan 'murungsungi' atau berganti kulit baru. Setelahnya  ia tetap liar, mengganggu seperti sebelumnya. Tidak ada yang lebih baik kecuali kulit atau penampilannya yang lebih baik. 

Sementara yang berpuasa seperti ulat, maka akan terjadi prubahan yang mengagumkan. Secara penampilan bahkan ia berubah lebih drastis. Jika sebelumnya berbentuk ulat yang bikin gatal, dilihat kulitnya penuh bulu, maka setelah berpuasa mengepompong sang ulat berubah diri ,menjadi kupu-kupu. Penampilannya yang baru membikin ia sedap dipandang, sering berwarna-warni dan kini mampu terbang. Mobilitasnya menjadi jauh lebih leluasa, luas kemana-mana.  

Kini sesudah Ramadhan berlalu masing-masing kita diharapkan koreksi diri, muhasabah. Tentu dengan berpandangan ke depan, optimis, melanjutkan kehidupan hingga tiba ajal menghadap Allah Sang Pencipta. Setiap waktu harus ada peningkatan kebaikan, keberkahan, ziyadatul khair, maka semangat menggapai ridha Allah selalu dijaga dengan sungguh-sungguh.

_______ 

Lamongan, 25 April 2026



Jumat, 24 April 2026

Kurang 10 Hari Pensiun Sudah Keburu Menemui Ajal


_______

                                                            Kurang 10 Hari Tak Sampai ke 60

Nit, Bapak mau syukuran pamitan ke sekolah hari Senin depan. Kata Pak Hartono, guru Bahasa Indonesia, pada Mbak Nita, anaknya yang kebetulan  menjadi tenaga TU sekolah. 

Pak, Senin depan itu masih tanggal 15 Pebruari. Apa tidak sebaiknya nunggu tanggal 26 Pebruari pas hari ultah Bapak. Atau tanggal 1 Maret saat Bapsk sudah masuk masa pensiun? Ujar  Mbak Nita menanggapi keinginan Pak Har.

Tidak. Pokoknya Bapak pengin syukuran Senin depan saja. Tegas Pak Hartono menolak saran anaknya. 

Akhirnya, Senin 15 Pebruari Pak Hartono melaksanakan syukuran pamitan purna tugas. Nasi dan jajan diberikan untuk seluruh guru dan karyawan. Kami, teman-teman Pak Har, senang saja, menikmatii. Kami merasa tak ada bedanya syukuran sekarang atau lain hari.

Selasa esoknya, Pak Hartono tidak masuk sekolah. Kabarnya, pagi hari Pak Har dolan ke tetangga sambil momong cucu. Jelang Dhuhur ia merasa agak pusing kepala dan istirahat di rumah. Karena kondisi memburuk, beliau segera dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan sebelum masuk kota, ajal sudah menjempunya.

Faidzaajaa ajaluhum laayasta'khiruina saa'atan walaatastaqdimuun. Apabila ajal telah tiba, maka itu tak dapat diundurkan atau dimajukan. Pak Hartono memaksa gelar syukuran Senin tanggal 15 Pebruari tentu terkait takdir ajalnya tanggal 16 Pebruari. 

Kita menduga Pak Har punya firasat kuat yang membuatnya ingin segera syukuran. Mungkini ia tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Ia idak tahu bahwa akan mati. Perasaannya ysng menungun Wallaahu a’lam.

                                                                               *******          


                                                                Kisah Lainnya Juga                                                       

Ada sepasang suami istri Bapak dan Ibu Guru yang keduanya mutase ke kota lain kampung halaman mereka. Justru tak lama setelahnya mereka bercerai dan masing-masing menikah dengan orang lain. Setelah sekian lama, si ibu guru dikabarkan meninggal dunia karena sakit meski masa tugas dinasnya masih sekitar 10 tahun.

Ada Bapak Guru yang masa tugasnya kurang 6 tahun yang karena sakit kemudian pergi selamanya. Ada lagi yang masih menyisakan masa tugas 4 tahun Yang snenarik, yang sering penulis ceritakan adalah kisah Pak Hartono di atas yang hanya tinggal hitungan hari jelang masa pension namun saatnya telah tiba untuk menghadap Ilahi.

*******

Penulis masih berdinas 5 tahun ke depan, in sya Allah, bila dikaruniakan umur panjang. Penulis sering menjawab demikian, bila ditanya kapan pension, di antaranya berlatar cerita di atas.  Saat menulis ini, di bulan April 2026, penulis meniatkan meneruskan dan menyelesaikan tugas kedinasan hingga tuntas, sampai purna atau pensiun. Penulis, minimal sementara ini, tidak  punya niat untuk pensiun dini. Penulis tidak berniat mengajukan berhenti bekerja kedinasan sebelum masa tugas berakhir di usia 60 tahun. Man proposes God disposes. Manusia berencana Tuhan yang menentukan. Laahawla walaaquwwata illaa billaah. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Agung.

_______ 

Lamongan, 24 April 2026

                                                                           



Kamis, 19 Maret 2026

Ketika Berpisah dari Kenikmatan dan Keindahan Bulan Ramadhan 1447 H 2026.

https://youtu.be/wctA_4xadBE?si=TzLTq6Bf08i8-uB8

_______

Bulan puasa Ramadhan 1447 H yang usai meninggalkan banyak catatan untuk kita renungi. Pertama, bila target ibadah adalah ketaqwaan, maka kita harus merasa belum banyak yang dikerjakan. Kita belum maksimal memanfaatkan dan menikmati bulan suci momen dilipatgandakan balasan amal shalih ini. Kita mungkin sudah semangat ibadah tetapi masih mudah terjebak sibuk dengan urusan yang tidak sepatutnya merepotkan, yang lalu mengurangi kekhusukan berada di situasi istimewa ini. Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa ra'fu'anniy. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku

Yang kedua, bulan Ramadhan penuh keindahan untuk orang beriman. Tidak mudah menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Kita mendapatkan ghirah yang tinggi untuk ibadah mahdhah, yang fardhu maupun yang sunnah, namun kita tetap terus bekerja, belajar atau beraktivitas yang bermacam-macam. Bersyukurlah kita, di tengah kepayahan dan jatuh bangun membina diri, kita selalu merasa gembira atau  terhibur di saat berbuka. Kita berdoa agar dapat masuk surga dan terhindar dari api neraka, serta ingin berjumpa dengan Allah sebagai puncak pengharapan. Itulah mengapa muka orang beriman yang berpuasa selalu menyiratkan kecerahan dan ketenangan. Ada keindahan yang hanya dirasakan orang beriman. 

Yang ketiga, bulan Ramadhan adalah momentum peningkatan kualitas diri. Jatuh bangun kita beribadah dan melakukan berbagai kegiatan selama sebulan adalah agar kita menjadi hamba Allah yang semestinya. Kita  perlu realistis dengan apa yang sudah dapat kita kerjakan. Yang terasa baik tampak jelas harus ditambah dan ditingkatkan. Sementara yang masih buruk kita mohonkan ampun dan belajar sepenuh hati untuk mengganti dengan kebaikan.  Bulan Ramadhan adalah bulan refleksi diri agar meningkat untuk sebelas bulan berikutnya. Untuk itu kita seyogyanya membuat semacam rekomendasi pribadi agar lebih nyata apa yang perlu dikerjakan di depan. 

                     *******

Shalat kita belum sempurna. Bacaan atau doa dalam shalat belum sepenuhnya kita hafal dan belum kita  pahami maknanya. Barangkali itu di antara penyebab kita sering gagal khusuk. Mungkin masih terjadi kita kurang tepat waktu atau terlambat ke masjid untuk berjamaah. Kita diingatkan bahwa baik buruk amal kita tergantung shalat kita. Baik buruk nasib kita di dunia dan akhirat amat ditentukan oleh kualitas shalat kita.

Selanjuynya puasa kita mungkin masih sebatas menahan lapar dan dahaga walau tentu kita berharap puasa kita, rukuk kita, sujud kita, shadaqah kita, bacaan Al Qur'an kita diterima Allah subhanahu wata'ala. Semoga sikap, perilaku, ucapan, pikiran atau perasaan kita tidak ada yang membawa pada batalnya puasa kita. Kita selslu berharap rahmat Allah. Semoga Allah Ta'ala mengampunkan dosa serta menutup kekhilafan atau kebodohan kita.

Meskipun kita telah menahu dan seringkali diingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Qur'an, namun kita belum memanfaatkan momen ini. Kita membaca Al Qur'an masih amat sedikit meski diingatkan bahwa membaca satu huruf saja dijanjikan sepuluh kebaikan, apalagi bila lebih dari itu,  hingga khatam, misalnya. Yang lebih hebat lagi tentu bila kita tak membaca sekedar di kerongkongan, tetapi berusaha memahami. Membaca terjemahannya serta meneliti berbagai tafsirnya  adalah sebagian caranya. 

Berikutnya, dalam hal beribadah maaliyah, dengan maal atau harta, kita perlu jujur dan ikhlas menghitung kekurangan. Apakah yang telah kita infaqkan itu sudah proporsional sesuai tuntunan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wassalam atau belum. Shadaqah kita belum maksimal, termasuk dengan yang berupa pikiran, tenaga, waktu tentu perlu kita koreksi lagi. Apakah kita mantap mengikuti perniagaan dengan Allah? Apakah kita sudah bersungguh-sungguh menempuh jalan Allah?

Akhirnya, buah atau dampak  ibadah kita pun secara obyektif harus dapat dilihat secara nyata. Akhlak kita kepada orang tua, para pendahulu, guru, pimpinan, keluarga, tetangga, teman, murid dan generasi penerus hendaknya sejalan dengan yang diteladankan Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. 

                                                               *******

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,1 (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.

                                                                                    (QS. 3 Ali Imran: 133 - 136)

_______ 

Lamongan, Kamis 19 Maret 2026 / 30 Ramadhan 1447 H

-

Senin, 16 Februari 2026

Mengapa Puasa 2026 Dimulai 18 Pebruari?

Oleh: Ismail Fahmi

_______

Bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam yang mengikuti perkembangan kalender Islam, tahun 2026 (1447 Hijriah) menandai sebuah tonggak sejarah baru. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.


Mungkin Anda bertanya: “Kenapa hari Rabu? Bukankah di Indonesia hilal kemungkinan besar belum terlihat pada Selasa sore?”


Jawabannya terletak pada penggunaan sistem baru yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).


Mari kita bedah alasannya dengan bahasa yang sederhana.


1. Prinsip "Satu Hari, Satu Tanggal di Seluruh Dunia"


Dulu, Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal yang cakupannya lokal (Indonesia saja). Namun, mulai tahun ini, Muhammadiyah beralih ke KHGT.


Prinsipnya sederhana: Bumi ini satu. Jika di salah satu bagian bumi—entah itu di Indonesia, Afrika, atau Amerika—syarat posisi bulan sudah terpenuhi, maka seluruh dunia dianggap sudah memasuki bulan baru.


Ini seperti mengikuti waktu salat; meski jamnya berbeda, hari dan tanggalnya haruslah sama secara global agar tidak ada kebingungan dalam ibadah internasional seperti puasa Arafah atau Idul Adha.


2. "Pahlawan" dari Alaska


Mengapa Muhammadiyah menetapkan 18 Februari sebagai awal puasa? Kuncinya ada pada data astronomi pada hari Selasa, 17 Februari 2026.


Berdasarkan perhitungan perhitungan sains (astronomi):


Ijtimak (Konjungsi): Bulan baru lahir pada pukul 12:01 UTC.


Syarat Masuk Bulan Baru: Ketinggian bulan harus minimal 5 derajat dan jarak lengkung (elongasi) minimal 8 derajat.


Fakta Lapangan: Di wilayah Indonesia, posisi bulan memang masih sangat rendah pada Selasa sore. Namun, di belahan bumi bagian barat, tepatnya di wilayah Alaska, syarat "5 derajat & 8 derajat" tersebut sudah terpenuhi.


Karena syarat sudah terpenuhi di satu titik di daratan bumi (Alaska), maka menurut prinsip KHGT, malam itu seluruh dunia sudah masuk waktu Ramadan, dan besoknya (Rabu) dimulai ibadah puasa.


3. Perbedaan dengan Turki


Inilah bagian yang sempat dipertanyakan oleh publik karena adanya perbedaan dengan kalender Turki (Diyanet).


Turki (Diyanet) tidak menghitung wilayah Alaska karena faktor kepadatan penduduk yang minim dan kesulitan administratif.


Namun, Muhammadiyah tetap mengakuinya karena Alaska adalah daratan resmi yang berpenghuni.


4. Diperkuat oleh Keputusan Ulama Amerika (FCNA)


Langkah Muhammadiyah ini bukan tanpa kawan. 


Fiqh Council of North America (FCNA), lembaga fatwa terkemuka di Amerika Utara, juga menetapkan hal yang sama.

Sabtu, 07 Februari 2026

Si Yusuf Merokok?


------- 


'Pak, niki murid sampean.' Mendapatkan kiriman foto anak merokok, sebagai wali kelas penulis kaget juga. 'Ono maneh,' pikir penulis. Hari sebelumnya, penulis baru menandatangani tulisan janji ratusan kali dari 4 anak. Ini ada 'problem' lagi, begitu istilahnya Bu Guru Via, wali kelas sebelah,, jika ada murid perwaliannya yang bermasalah.


Memperhatikan murid di gambar, penulis tidak cepat terpancing atau reaktif. Memang tanpa tunggu lama, foto itu langsung penulis teruskan ke guru BK, ke Bu Fifit. Namun,  melihat Yusuf Refran yang 'merokok', penulis pun jadi berpikir. Anak ini dalam hal akademik sementara belum menonjol  Namun keaktifannya di kegiatan kelas membuat penulis tak ingin mudah langsung menghakimi.


Ia bersama Fajar, ketua kelas,  sedia 'ngethok pring' memotong bambu dari desanya untuk bahan peraga pada karnaval dulu. Itu mengharukan. Ia juga bersama teman lainnya tanpa diperintah mengecat, menghias, dinding kelas, bahkan di ketinggian dengan panjat-panjat tangga. Itu mendahului penulis yang berencana panggil tukang.  Sewaktu ada lomba fashion show, si Yusuf ini yang  sedia mewakili kelas berpasangan dengan salah satu teman putri. Untuk ini tak mudah mencari  yang mau karena umumnya anak-anak malu tampil akting di atas catwalk.


Syukur alhamdulillah, sebelum ke kelasnya, ada teman-temannya, yang dapat dipercaya,  yang menerangkan bahwa kejadian di foto itu bukan kejadian yang sebenarnya. 'Itu AI, Pak. Itu editan Syahid Nur  dan dia yang kirim ke Bapak dengan HP-nya Rahardian'. Si Fabiano Aal, si juara kelas, meyakinkan. 


Penulis pun kroscek ke Bu Fit BK yang membenarkan bahwa itu gambar editan saja.


Sebenarnya penulis ingin menyampaikan bahwa mungkin anak-anak kelak merokok sebagaimana bapak-bapaknya. Tapi jika masih anak-anak sudah merokok tentu tidak pada tempatnya. Selain faktor kesehatan, itu juga merupakan pemborosan uang.  Perlu juga disampaikan beberapa pendapat atau pandangan tentang merokok. Merokok itu makruh hingga merokok itu haram. Merokok itu membunuhmu hingga banyak yang merokok umurnya lebih panjang dari yang tidak merokok he he he.


Untuk urusan merokok, sejak masa muda dulu,  penulis tidak biasa merokok kecuali jika membersamai 1, 2 teman tertentu saja. 

_______

Minggu, 11 Januari 2026

Tubuhmu Malas, Andai Tak Ada Perintah Shalat Subuh

_________

Andai tak ada ajaran perintah shalat Subuh  tentu tak kuat alasan untuk bangun sebelum terbit mentari. Kita akan menjadi orang malas, hidup tak sehat karena melewatkan udara segar dan keindahan pagi  Andai tak ada perintah shalat Dhuhur, kurang pertimbangan untuk atur jadwal aktivitas siang.  Andai tak ada perintah shalat Ashar, pasti banyak yang mengakhiri kegiatan sehari-hari dengan muka muram, lelah yang kurang bermakna. Andai tak ada perintah shalat Maghrib, maka malam akan disongsong dengan rasa tak nyaman. Andai tak dikerjakan shalat  Isya', tidur tak dapat nyenyak, mimpi buruk, kurang istirahat, melemahkan kesehatan dan meredupkan harapan untuk hari esok.

Andai tak ada ajaran untuk bersuci, wudhu, mandi junub, tayamum, tentu kurang alasan menjaga kebersihan, untuk menjamin kesehatan jasmani dan rohani. Andai tak ada perintah agar makan halalan thayyiban, maka yang ada perilaku ngawur memenuhi kebutuhan badan. Andai tak ada ajaran menikah, maka pemenuhan hajat biologis akan menyerupai cara binatang. Andai tak ada perintah berlaku adil, maka hukum rimba yang akan diberlakkukan. Kehidupan dunia dibuat tak aman, tak nyaman. Berbuat saling semaunya yang akan menciptakan kerusakan dan kehancuran.

Andai tak ada konsep tauhid 'laailaaha illallah' 'tiada tuhan selain Allah', aksn membuat kehidupan yang tak teratur, terjadi hegemoni makhluk satu terhadap lainnya. Tidak ada kesetaraan sesama manusia. Kebodohan tidak terkoreksi dan berlanjut pada pengagungan yang tak semestinya. Terjadi kejahiliahan pemujaan pada kuburan, gunung, laut, matahari, betbagai berhala, termasuk pengkultusan atau pendewaan pada manusia. Mudah terjadi penindasan satu terhadap lainnya. Tidak akan ada kebebasan hidup sejati. Konsep tauhid mengoreksi dan meluruskan semua.

Andai tak ada manusia mulia utusan Tuhan, yang mendapatkan bimbingan langsung dari langit, untuk menjadi rujukan di bumi, teladan dalam kehidupan, siapa yang patut ditiru? Siapa yang menjadi penengah dari berbagai perselisihan? Para musuh saja segan kepadanya. Ia satu-satunya manusia yang paling dicinta oleh para sahabat dan pengikutnya. Ia manusia paling paripurna dalam sejarah penciptaan umat manusia. Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam penghulu para utusan Tuhan. Beliau dihadirkan seiring skenario rencana penciptaan alam. Andai tak ada rencana penciptaan Rasulullah Muhammad, tak ada pula rencana penciptaan seluruh manusia dan alam. Wallaahu a'lam.

Andai tak ada keimanan dan pengetahuan tentang semua di atas, tidak ada petunjuk dan tuntunan Tuhan pada kita. Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'amma yashifuun wassalaamun 'alal mursaliin walhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.

_______ 

Ahad 22 Rajab 1447 H / 11 Januari 2026

ģ

Kamis, 01 Januari 2026

Menapak Hari Baru Semangat 55, Bukan Refleksi Akhir Tahun Tapi Akhir Usia


_________ 

Dengan nada  guyon, di satu ceramah, Pak Kyai optimis bahwa beliau akan berumur panjang karena ayah juga kakek beliau dikaruniai usia cukup panjang. he he he. Berkunjung ke teman, guru PAI, koq ya tidak menolak.  Kebetulan abahnya juga masih ada, cukup sepuh hampir 80.  Penulis belum sempat tanya atau ngobrol berlama-lama terkait usia harapan hidup dan takdir  Atau untuk 'mendebat',  karena tentang itu sepertinya ada harapan yang kurang menguntungkan untuk penulis he he he

Omong-omong dengan seorang tetangga, Pak Haji pensiunan polisi, ternyata menyetujui juga.  Memang biasanya begitu, katanya. Beliau sendiri di usia 70 an masih tampak gagah dengan penampilan tenang dan kalem, bawaan sejak muda. Barangkali karena cukup mampu menjaga emosi, rajin mandi sebelum subuh dan ashar, tidak makan berlebihan, beliau cukup sehat. Tentu pernah sakit, tetapi setelahnya kini masih dapat beraktivitas dengan baik.

Penulis sering 'angen-angen' usia yang dikaruniakan pada ibu dan bapak penulis. Berdasar tanggal lahir yang tertera di KTP, keduanya meninggal pada usia relatif tidak panjang, 63 tahun. Bapak terlahir pada tahun 1941 meninggal pada 2004. Ibu penulis terlahir pada 1942 meninggal pada 2005. Bapak dipanggil di bulan Rajab, ibu di pertengahan Ramadhan di hari Jum'at. Kita selama ini mencatat 63 tahun itu seperti usia wafat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam. Terkait itu, penulis pun merasa ada semacam syukur atas kesamaan tersebut, wallahu a'lam. 

Pada Senin 22 Desember 2025 tersebar berita duka  berpulangnya ulama, tokoh masjid Jogokariyan Yogjakarta yang fenomenal. Ustadz Muhammad Jazir ASP, qadarullah juga wafat pada usia 63 tahun. Saat takziah, tokoh Anies Baswedan menyampaikan bahwa umur Ustadz Jazir relatif pendek tetapi gagasan, amal jariyahnya panjang, abadi. Lebih kurang demikian. Di sini kita diingatkan pentingnya kualitas usia.

Penulis yang kini 55 tahun kadang mengangan-angan barangkali kelak kembali kepada Allah pada usia seperti Bapak /  Ibu dan Rasulullah shalallaahuv'alayhi wassalam yakni 63 tahun. Jika penulis pensiun dari PNS pada tahun 2031 di usia 60, maka  in sya Allah akan menghadap  Ilahi pada 2034. Sesudah itu, diri ini tak lagi berada di permukaan bumi, terkubur di pemakaman.

Andai itu terjadi maka penulis tak akan lagi menyaksikan  si Mbak, putri shalihah  pertama, yang kala itu bertumbuh dewasa pada usia 31 tahun. Sementara si Adhik, putri shalihah kedua, akan berumur 25 tahun. Sedangkan istri yang menginjak 61 tahun juga sudah pensiun. Akankah itu terjadi? Wallaahu a'lam. 

Mungkin justru sebelum persiun atau tak lama setelah menulis ini, entah sebab apa, penulis dipanggil menghadap-Nya. Innalillaahi wainna ilayhi raaji'uun. Atau mungkin pula penulis ditakdirkan berusia hingga 70 tahun bahkan lebih. Kebiasaan, bila itu betul kebiasaan, harapan hidup seseorang seperti orang tuanya, toh itu tak menjadi kebenaran atau kepastian. Jadi tak selalu betlaku. Ada alasan selalu optimis he he he.

*******

Sementara itu, dalam keseharian kadang kita terjebak  pada kondisi yang tidak nyaman karena  menyaksikan berbagai keadaan yang tak ideal, atau bahkan memprihatinkan. Syukur alhamdulillah perasaan demikian jadi berubah bila perhatian kita teralihkan pada keberadaan bocah-bocah kecil atau anak-anak muda yang kita temui. Kita lantas berpikir bahwa merekalah pelanjut kehidupan. Hidup mereka tentu umumnya lebih panjang dari kita yang telah cukup berusia. Kita tak seharusnya terlalu risau seakan lupa bahwa ada Allaah Yang Maha Hidup dan Maha Perkasa, Yang Tak Tidur dan Tak Mengantuk.  Allah yang mengijinkan segala sesuatu terjadi atau tidak terjadi. Skenario kehidupan telah ada di Luhul Mahfudz.

Generasi muda adalah yang akan menghadapi atau menjalani segala situasi yang terus berkembang. Kita sewajarnya boleh khawatir terhadap hal-hal negatif yang terjadi,  namun sejatinya merekalah yang akan merasakan dampak yang lebih lama dari kita. Perubahan-perubahan yang barangkali bakal terjadi, entah memburuk atau membaik, kita tidak akan terus mengikuti. Kita yang berumur tak mungkin selalu membersamai anak-anak kita tersayang, adik-adik kita, junior-junior kita. Menyadari itu, keprihatinan kita seakan  menjadi terbagi bahwa ada yang akan menanggung beban peradaban. Namun kita pun makin sayang pada mereka dan tak tega bila tak berikhtiyar menyiapkan agar mereka kuat. 

*******

Apakah narasi di atas membuat 'nglokro' atau hal yang tak bermakna, biasa saja-biasa saja, atau itu untuk bekal melangkah ke depan? Tentu saja refleksi atau muhasabah diri adalah untuk menjadi pijakan pertama, start, untuk melanjutkan langkah, berjalan tegap, berlari atau bahkan melompat terbang. Berbagai wujud semangat dapat dipilih sesuai kondisi, asal saja gerak tak pernah henti, nyala spirit berkemajuan tak mandeg apalagi menjadi kemunduran. Orang beriman tak akan putus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, umat Rasulullah Muhammad shalallaahu 'alayhi wassalam adalah manusia terbaik yang senantiasa ingin menebar manfaat untuk sesama, menjadai rahmat untuk seluruh alam. Andaikan esok kiamat, sementara di tangan masih ada sebutir benih, maka akan tetap ditanam oleh umat Nabi. Kita selalu semangat menapak hari-hari baru, in sya Allah.

_______ 

Lamongan, Kamis 1 Januari 2026 /  12 Sya'ban 1447 H.


Bekal 11 Bulan ke Depan

_______ Sebagaimana disampaikan oleh Pak Kyai atau mungkin penceramah lain, orang puasa akan mendapatkan dampak dari puasanya itu. Ada yang ...